Senja Itu Berkata Lain,,
Mungkin awalnya Gue harus minta maaf sama semua mahasiswa almamater abu-abu, almamater ekonomi. Sore itu saat yang nggak pernah terbayangkan dalam hidup dan kehidupan Gue. Saat kapten melihat Gue dan bertanya.
"Mat, lu berani ambil tendangan penalti nggak?"
Keadaan saat itu memang luar biasa, tekanannya luar biasa. Saat ada dua tim yang bermain sama baiknya, namun harus ditentukan siapa tim yang berhak lolos ke babak berikutnya. Saat itu, Gue diberi dua pilihan yang bisa Gue pilih.
"Katakan TIDAK, dan semua tekanan itu akan berakhir. Katakan TIDAK, dan Gue nggak bakal disalahin kalo tim Gue kalah hari itu. Katakan TIDAK, maka Gue hanya akan lari dari suatu masalah tanpa pernah mencoba menyelesaikannya. Katakan TIDAK, dan Gue nggak akan pernah belajar dari sebuah tantangan dan bagaimana menyelesaikannya. Katakan TIDAK, dan Gue tidak akan pernah menjadi dewasa, karena Gue nggak pernah berani ambil risiko jadi penendang penalti."
Dan saat itu sebuah kalimat lantang keluar dari mulut Gue.
"OKE! Gue ambil tendangan penalti."
Bahkan Gue sendiri nggak tau apa yang membuat Gue berani ambil risiko digebukin orang sekampus kalo tendangan Gue gagal. Gue masih inget, bolanya bercorak merah. Sesaat Gue pegang dan Gue taro di titik putih tanpa memandang penjaga gawang lawan. Tujuan Gue cuma satu, pojok kanan bawah gawang teknik, itu aja.
"Bismillah.."
Suara teriakan pendukung teknik terus mengusik kedamaian Gue saat eksekusi bersejarah itu. Gue tendang dengan kaki kanan dan...gagal ;-(
Teknik berpesta, dan ekonomi yang sudah berjuang tanpa lelah sampai babak adu penalti itu harus pulang, tidak dengan rasa hina, tapi dengan kepala tegak. I always give my best on the pitch, my all for the team. Maafin Gue ya ekonomi, especially almamater FEUI. Senja itu berkata lain,,



