Jangan Diambil Sekali
Tim sepakbola FEUI kembali latihan senin sore lalu, pertandingan latihan kali ini menghadapi tim satpam & karyawan FEUI.
"Pemain belakang Wawan, Erik, Asep, Anind. Di tengah Gue, Rachmat, Reza, Gayuh, sama Windu. Depan Putu sendirian." Kata Hendrik, anak ekstensi memberi instruksi. Gue si oke-oke aja, emang posisi favorit Gue main bola ada di posisi centrocampista atau midfielder alias pemain tengah.
"Trus, kipernya siapa?" Sahut salah satu diantara Kami.
"O iya Gue lupa, kiper-kiper pada kemana ni. Wan, lu jadi kiper ya. Mat, lu turun ke belakang, di sayap kanan." Kata Hendrik lagi.
Yah, gagal Gue main di tengah. Pada akhirnya harus balik ke posisi asli sebagai bek sayap.
Pertandingan berjalan seru, saling menyerang ganti-gantian. Beberapa peluang gagal dimanfaatkan penyerang FEUI, bikin kaki Gue gatel aja pengen maju ke depan. Sampai akhirnya kesempatan yang ditunggu tiba, Gue overlapping dari sayap kanan ke kotak penalti lawan dan Putu ngasi bola terobosan yang langsung Gue tendang ke pojok kanan atas gawang Pak Irawan, satpam FEUI berbadan besar. Dan.. GOOOOLLLLLL!! Satu kecupan manis pada logo FEUI di seragam latihan Gue (biasanya Gue ngecup bendera merah putih di seragam Team Pukin, tapi lagi nggak pake) menandai perayaan gol Gue di lapangan hijau setelah 3 tahun lamanya nggak bikin gol.
Setelah itu pertandingan tampak lebih berat buat Gue, gara-gara maju ke depan terus. Posisi Gue di sayap kanan jadi pusat serangan tim lawan. Mana Gue udah capek banget. Insting pemain depan Gue yang agresif nggak bisa dipake buat jadi pemain belakang. Bola di kaki pemain lawan selalu pengen Gue ambil sekali tanpa perhatiin pemain lawan lain yang Gue jaga. Ya.. sekitar 4-5 kali pemain lawan ngasi crossing dari posisi Gue yang udah Gue tinggal karena ngambil bola di kaki lawan dengan terburu-buru. Alhamdulillah gawang Kami tetap nggak kebobolan dan menang 2-0 (satu gol lagi dari Reza) atas karyawan & satpam.
Besok harinya, Anind dengan bangganya ngasi tau Gue tentang prinsip-prinsip jadi pemain belakang menurut fantasista:
1. Jangan menumpukan berat badan ke depan.
2. Pemain belakang harus selalu siap lari kejar bola.
3. Jangan ambil sekali bola di kaki lawan.
4. Koordinasi sama pemain belakang lain kalo mau ngerebut bola.
5. Cepet balik ke belakang kalo abis maju bantu serangan.
Ternyata poin 3, 4, dan 5 telah Gue langgar.
Mungkin setelah gol yang Gue buat, rating 9 yang muncul. Tapi setelah serangan bertubi-tubi dari posisi yang Gue jaga. Rating Gue mungkin tinggal 6 atau 5. Ternyata hati tak bisa berdusta, Gue mau main di tengah lagi..
"Pemain belakang Wawan, Erik, Asep, Anind. Di tengah Gue, Rachmat, Reza, Gayuh, sama Windu. Depan Putu sendirian." Kata Hendrik, anak ekstensi memberi instruksi. Gue si oke-oke aja, emang posisi favorit Gue main bola ada di posisi centrocampista atau midfielder alias pemain tengah.
"Trus, kipernya siapa?" Sahut salah satu diantara Kami.
"O iya Gue lupa, kiper-kiper pada kemana ni. Wan, lu jadi kiper ya. Mat, lu turun ke belakang, di sayap kanan." Kata Hendrik lagi.
Yah, gagal Gue main di tengah. Pada akhirnya harus balik ke posisi asli sebagai bek sayap.
Pertandingan berjalan seru, saling menyerang ganti-gantian. Beberapa peluang gagal dimanfaatkan penyerang FEUI, bikin kaki Gue gatel aja pengen maju ke depan. Sampai akhirnya kesempatan yang ditunggu tiba, Gue overlapping dari sayap kanan ke kotak penalti lawan dan Putu ngasi bola terobosan yang langsung Gue tendang ke pojok kanan atas gawang Pak Irawan, satpam FEUI berbadan besar. Dan.. GOOOOLLLLLL!! Satu kecupan manis pada logo FEUI di seragam latihan Gue (biasanya Gue ngecup bendera merah putih di seragam Team Pukin, tapi lagi nggak pake) menandai perayaan gol Gue di lapangan hijau setelah 3 tahun lamanya nggak bikin gol.
Setelah itu pertandingan tampak lebih berat buat Gue, gara-gara maju ke depan terus. Posisi Gue di sayap kanan jadi pusat serangan tim lawan. Mana Gue udah capek banget. Insting pemain depan Gue yang agresif nggak bisa dipake buat jadi pemain belakang. Bola di kaki pemain lawan selalu pengen Gue ambil sekali tanpa perhatiin pemain lawan lain yang Gue jaga. Ya.. sekitar 4-5 kali pemain lawan ngasi crossing dari posisi Gue yang udah Gue tinggal karena ngambil bola di kaki lawan dengan terburu-buru. Alhamdulillah gawang Kami tetap nggak kebobolan dan menang 2-0 (satu gol lagi dari Reza) atas karyawan & satpam.
Besok harinya, Anind dengan bangganya ngasi tau Gue tentang prinsip-prinsip jadi pemain belakang menurut fantasista:
1. Jangan menumpukan berat badan ke depan.
2. Pemain belakang harus selalu siap lari kejar bola.
3. Jangan ambil sekali bola di kaki lawan.
4. Koordinasi sama pemain belakang lain kalo mau ngerebut bola.
5. Cepet balik ke belakang kalo abis maju bantu serangan.
Ternyata poin 3, 4, dan 5 telah Gue langgar.
Mungkin setelah gol yang Gue buat, rating 9 yang muncul. Tapi setelah serangan bertubi-tubi dari posisi yang Gue jaga. Rating Gue mungkin tinggal 6 atau 5. Ternyata hati tak bisa berdusta, Gue mau main di tengah lagi..



